Masyarakat adat dan tradisi dalam menangkap ikan hoki di Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir. Aktivitas menangkap ikan hoki tidak hanya sekedar mencari nafkah, tetapi juga merupakan bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan.
Menurut Dr. Tulus Tambunan, seorang ahli kelautan, masyarakat adat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang telah diturunkan secara turun-temurun dalam menangkap ikan hoki. “Mereka memiliki cara-cara tradisional yang efektif dalam menangkap ikan hoki tanpa merusak lingkungan,” ujarnya.
Salah satu tradisi yang masih dilestarikan dalam menangkap ikan hoki adalah menggunakan jaring ramah lingkungan. Menurut Bapak Suryanto, seorang nelayan tradisional di Pulau Bali, jaring yang digunakan oleh masyarakat adat tidak hanya efektif dalam menangkap ikan hoki, tetapi juga tidak merusak terumbu karang dan ekosistem laut lainnya.
Namun, tantangan yang dihadapi oleh masyarakat adat dalam menjaga tradisi menangkap ikan hoki adalah adanya modernisasi dan perubahan pola hidup masyarakat. Hal ini dapat mengancam keberlangsungan tradisi menangkap ikan hoki di Indonesia.
Oleh karena itu, perlu adanya dukungan dan perlindungan dari pemerintah serta masyarakat luas untuk menjaga keberlangsungan masyarakat adat dan tradisi dalam menangkap ikan hoki di Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Siti Nurjanah, seorang ahli antropologi, “Masyarakat adat memiliki pengetahuan yang berharga dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, dan hal ini perlu dihargai dan dilestarikan.”
Dengan menjaga dan melestarikan masyarakat adat dan tradisi dalam menangkap ikan hoki, bukan hanya keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir yang terjamin, tetapi juga keberlangsungan lingkungan laut dan warisan budaya Indonesia yang kaya dan beragam. Semoga upaya-upaya untuk menjaga tradisi ini terus diperkuat dan didukung oleh semua pihak.